Di seluruh dunia, sekolah telah ditutup dalam hitungan hari bahkan bulan. Tak terkecuali di Indonesia, sektor pendidikan dihentikan sementara untuk menekan laju penularan pandemi. Ditutupnya sekolah merupakan bagian dari skenario kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia.

sekitar 91,3% atau 1,5 miliar pelajar di seluruh dunia tidak dapat bersekolah akibat pandemi. Sedangkan di Indonesia pelajar yang terdampak sekitar 45% atau 3% dari jumlah di seluruh dunia.

Di tengah pandemi, pelajar memulai fase baru dalam sistem pendidikan Indonesia. Pelajar hari ini harus beradaptasi dengan kebaruan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) hingga ditiadakannya Ujian Negara (UN). Tidak ada yang menyangka, bahwa wajah pendidikan berubah drastis akibat pandemi.

Kerja keras tenaga pendidik patut kita apresiasi di waktu yang tak pasti ini. Orang tua pun ikut mendampingi anaknya belajar budaya, bahasa hingga sains dari rumah. Justru, menurut Menteri Nadiem, krisis ini memaksa situasi proses belajar ideal, karena bukan hanya guru yang mengajar melalui platform online, tapi hadir juga orang tua yang mengawasi anak belajar secara virtual. Inilah yang sebenarnya dinamakan proses belajar, yaitu kolaborasi antara orang tua, guru dan murid dalam satu waktu.

Dari krisis ini, orang tua dapat mengambil pelajaran bahwa betapa sulitnya mendidik anak karena saat ini mereka mengalaminya sendiri. Secara tidak langsung PJJ meningkatkan empati orang tua terhadap guru. Disisi lain, guru menyadari tanpa ada peran orang tua yang baik, pendidikan tidak akan berjalan dengan baik.

Kegiatan belajar mengajar di sekolah masih jadi kekhawatiran Pemerintah Pusat terhadap munculnya klaster baru di bidang pendidikan. Apalagi sekolah yang berada di wilayah episentrum. Sejak kebijakan belajar dari rumah berjalan hampir 3 bulan, Kemendikbud belum memutuskan kapan sekolah akan kembali dengan sistem tatap muka, sedangkan tahun ajaran baru 2020/2021 akan tetap dimulai pada 13 Juli mendatang.

Mengutip pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Dewi Sartika, Jabar akan memastikan keamanan dan keselamatan peserta didik selama pandemi tanpa menghilangkan hak-haknya untuk mendapat pembelajaran. Maka dari itu, di Jabar pun akan tetap melakukan sistem PJJ. Keputusan ini diambil menimbang beberapa hal, termasuk rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang mengkhawatirkan adanya lonjakan kasus baru jika tergesa-gesa mengambil keputusan kembali dibukanya sektor pendidikan.

Begitu pula jika mengacu kepada panduan Adaptasi Kebiasaan Baru atau AKB30 di Jabar. Aktivitas sekolah dapat kembali berjalan tatap muka apabila wilayah berada pada Level Hijau, sedangkan pada wilayah dengan Level Biru pun, sekolah akan tetap menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh.

Sementara ini, belum ada wilayah di Jabar yang masuk dalam kategori Level Hijau. Dalam kajian AKB di Jabar, sektor pendidikan menjadi yang paling terakhir untuk dibuka kembali. Sehingga Kang Emil memprediksi, kemungkinan besar sekolah akan kembali dibuka pada Januari 2021

Di tengah wajah baru pendidikan ini, Indonesia menghadapi tantangan yang kompleks mengenai pembelajaran jarak jauh. Mulai dari ketersediaan infrastruktur teknologi yang belum merata, pasokan listrik yang minim ke daerah tertinggal, hingga kesenjangan literasi digital warga di daerah rural.

Menurut hasil survei oleh Dinas Pendidikan https://smkn36jakarta.com/ Jawa Barat kepada 100.546 siswa SMA atau sederajat yang dianalisis Jabar Digital Service, sekitar 67% siswa di Jabar yang belajar jarak jauh mudah memperoleh bahan belajar baik dari buku pelajaran fisik maupun daring. Selain itu siswa juga mengakses berbagai sumber digital seperti platform kursus online, buku elektronik, Youtube, bahkan hingga TV dan radio. Berarti, masih ada siswa di Jabar yang tidak memiliki akses ke sumber bahan belajar.

Deixe um comentário

O seu endereço de e-mail não será publicado. Campos obrigatórios são marcados com *